10 Hal Hal yang Membatalkan Puasa dan Perilaku yang Menghilangkan Pahala Puasa

Hal Hal yang Membatalkan Puasa ini berlaku untuk semua puasa baik itu puasa wajib seperti puasa di bulan Ramadhan maupun puasa sunnah. Oleh karena itu ketika menjalankan ibadah puasa diperlukan sikap hati-hati agar terhindar dari semua hal yang bisa membatalkan dan mengurangi nilai pahala. Sehingga ketika menjalankan ibadah puasa kita bisa mendapat pahala yang berlimpah, terutama pada bulan ramadhan, bulan yang penuh rahmah dan ampunan.

Puasa dalam bahasa Arab yaitu shaum, yang artinya “manahan diri” dari makan dan minum serta semua perkara yang bisa membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga matahari terbenam (maghrib).

Selain menahan diri dari hal-hal yang bisa membatalkan puasa, kita juga perlu menahan diri dari semua hal yang bisa merusak nilai pahala puasa, agar puasa yang dijalankan menjadi makbul dan mendapat pahala sempurna dari Allah SWT.

Perbedaan antara hal-hal yang membatalkan puasa dengan hal-hal yang merusak pahala puasa adalah :

  • Hal yang membatalkan puasa adalah perkara yang dapat membuat puasa tidak sah atau batal dan tidak akan mendapatkan pahala atau sama halnya dengan tidak berpuasa.
  • Sedangkan hal-hal yang menghilangkan pahala puasa adalah perkara yang dapat membuat nilai pahala puasa tidak sempurna atau bahkan puasa tersebut tidak mendapatkan pahala sama sekali. Walaupun puasa yang sedang dijalankan tetap sah secara hukum namun tidak mendapatkan pahala sedikit pun dari ibadah yang dijalankan. Hanya mendapatkan rasa lapar dan haus. Puasa yang demikian disebut puasa yang sia-sia menurut sabda nabi Muhammad SAW.

Ibadah puasa merupakan sarana yang baik untuk mendidik jiwa umat Islam agar dapat menahan diri dari berbagai hal yang membatalkan puasa dan menghindarkan diri dari perilaku tercela. Oleh karena itu, orang yang puasanya berhasil seharusnya ada perkembangan positif dari segi kesehatan dan terlebih dari segi psikologisnya, karena sudah dilatih selama satu bulan penuh.

Ada suatu pertanyaan, apakah berbohong dapat membatalkan puasa? Berbohong adalah perkara yang menyangkut akhlak. Maka menahan diri untuk tidak melakukanya merupakan kebaikan dan seharusnya umat Islam memang benar-benar harus berusaha untuk itu.

Hati-hati dengan berbohong karena perbuatan itu dapat “membatalkan” puasa. Dan dilarang keras berbohong ketika kamu sedang menjalankan ibadah puasa. Ada sebuah hadits menegaskan bahwa:

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan:. (HR Bukhari No. 1903).

Berbohong merupakan perbuatan yang sangat tercela pada setiap waktu, terlebih lagi pada bulan Ramadhan. Sebagai umat muslim, kita harus menghindari perbuatan tercela tersebut. Para ulama jumhur telah sepakat bahwa berdusta atau berbohong dalam hadits di atas berarti haram, namun tidak membatalkan puasa.

Orang yang sedang menjalankan ibadah puasa wajib menjauhkan diri dari perbuatan dusta, ghibah (menceritakan kejelekan orang lain), namimah (mengadu domba), laknat (menjauhkan orang agar dijauhkan dari rahmat Allah) dan mencaci maki. Orang yang sedang berpuasa hendaknya menjaga telinga, mata, dan perutnya dari perkataan yang haram, penglihatan yang haram, pendengaran yang haram dan makan minum yang haram.

 

Hal Hal yang Membatalkan Puasa

Berikut adalah contoh hal-hal yang bisa membatalkan puasa, yang mana harus dihindari dalam rukun puasa yaitu :

  1. Memasukkan suatu benda ke dalam lubang sesuatu

Memasukkan suatu benda ke dalam lubang sesuatu dengan sengaja dapat membatalkan puasa. Contohnya seperti makan, minum dan segala sesuatu yang masuk melalui lubang anggota tubuh yang berkesinambungan atau menyambung hingga lambung. Jika perbuatan tersebut dilakukan tanpa sengaja seperti lupa, maka tidak membatalkan puasa.

“… makan dan minumlah sampai waktu fajar tiba dengan dapat membedakan antara benang putih dan hitam…” (QS. Al-Baqarah, 2: 187)

Sedangkan dalil yang menjelaskan bahwa makan dan minum karena tidak sengaja atau lupa tidak membatalkan puasa, adalah sebagai berikut

“Siapa yang lupa keadaannya sedang berpuasa, kemudian ia makan dan minum, maka hendaklah ia melanjutkan puasanya, karena sesungguhnya Allah-lah yang memberikan makanan dan minuman tersebut.” (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari: 1797 dan Muslim: 1952).

 

  1. Berhubungan seksual dengan sengaja

Melakukan hubungan seksual dengan sadar dan disengaja baik yang dilakukan oleh pasangan suami isteri atau yang bukan suami isteri dapat menyebabkan batal puasa. Suatu perbuatan disebut hubungan seksual dengan batas minimal masuknya khasafah ke dalam farji (vagina). Apabila kurang dari itu maka tidak dikategorikan sebagai hubungan seksual dan tidak membatalkan puasa.

Seseorang yang melakukan hubungan seksual dengan sadar dan sengaja ketika menjalankan ibadah puasa Ramadhan, dan malam harinya ia berniat menjalankan puasa, maka orang tersebut berdosa karena telah merusak ibadah puasa pada siang harinya. Dan oleh karena itu, seseorang tersebut diwajibkan untuk mengadla dan membayar kifarat sebagai hukumnya. Kifarat yaitu memerdekakan budak perempuan mu’min.

Apabila tidak mampu untuk memerdekakanya secara pembiayaan atau tidak menemukan seorang budak untuk dimerdekakan, maka wajib menggantinya dengan berpuasa dua bulan berturut-turut di bulan selain bulan Ramadhan. Dan jika ia juga tidak mampu melakukannya, maka diwajibkan untuk membayar fidyah untuk 60 orang kafir atau miskin. Dan untuk setiap orang miskin akan mendapatkan satu mud dari makanan yang mencukupi untuk zakat fitrah.

Dari Abu Hurairah r.a, menceritakan seorang pria datang kepada Rasulullah SAW, ia berkata “Celaka aku wahai Rasulullah”,

Nabi SAW bertanya: “Apa yang mencelakakanmu?”,

Pria itu menjawab: “Aku telah bercampur dengan isteriku pada bulan Ramadhan”

Nabi SAW menjawab: “Mampukah kamu berpuasa dua bulan berturut-turut?”,

Pria itu menjawab: “Tidak mampu”,

Rasulullah SAW bertanya lagi: “Apakah kamu mempunyai makanan untuk memberi enam puluh orang miskin?”,

Ia menjawab: “Tidak”,

Lalu pria itu duduk, dan Nabi memberi satu keranjang kurma,

Rasulullah SAW berkata kepadanya: “Bersedekahlah dengan kurma ini”,

Pria itu bertanya: “Apakah ada orang yang lebih membutuhkan dari kami? Tidak ada keluarga yang lebih membutuhkan kurma ini selain dari keluarga kami”,

Nabi SAW tertawa hingga terlihat gigi taringnya, dan beliau bersabda: “Kembalilah ke rumahmu dan berikan kurma itu pada keluargamu.” (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari: 1800 dan Muslim: 1870).

 

  1. Mengobati dari kemaluan dan dubur

Pengobatan bagi orang sakit yang dilakukan melalui salah satu atau keduanya dari jalan kemaluan dan dubur maka dapat membatalkan puasa.

 

  1. Muntah disengaja

Muntah-muntah yang dilakukan secara sengaja karena memasukkan sesuatu ke dalam mulut dapat membatalkan puasa. Sedangkan muntah tanpa disengaja karena sakit maka tidak akan membatalkan puasa.

Dari Abu Hurairah r.a menuturkan, sesungguhnya Nabi SAW bersabda:

“Siapa yang tidak sengaja muntah, maka ia tidak diwajibkan untuk mengganti puasanya. Dan siapa yang muntah karena disengaja, maka ia wajib mengganti puasanya.” (Hadits Hasan Gfarib, riwayat al-Tirmidzi: 653 dan Ibn Majah: 1666).

 

  1. Keluar air mani karena bersentuhan

Keluarnya air mani karena bersentuhan meski tanpa berhubungan seksual dapat membatalkan ibadah puasa. Baik itu keluar dengan usaha tangan sendiri (masturbasi) atau bersentuhan tangan seorang isteri yang halal. Dan apabila keluar air mani tanpa bersentuhan seperti mimpi basah, maka ibadah puasanya tidak batal.

 

  1. Haid

Haid atau menstruasi yaitu adanya darah yang keluar dari kemaluan perempuan yang telah memasuki usia batas minimal 9 tahun. Waktu haid paling cepat yaitu 24 jam. Namun ghalibnya atau umumnya, darah akan keluar selama kurang lebih satu minggu. Hingga paling lama 15 hari.

Darah yang keluar dari kemaluan seorang perempuan dengan ciri seperti di atas, jika keluar pada seorang perempuan yang sedang melakukan ibadah puasa maka puasanya batal.

“Kami (kaum perempuan) diperintahkan untuk mengganti puasa yang ditinggalkan, namun tidak diperintahkan untuk mengganti shalat yang ditinggalkan”. (Hadits Shahih, riwayat Muslim: 508)

 

  1. Nifas

Nifas adalah darah yang keluar dari kemaluan seorang perempuan setelah proses melahirkan dengan rentang waktu yang biasanya mencapai 2 bulan (ukuran maksimal). Apabila seorang perempuan mengalami nifas ketika sedang berpuasa, maka puasanya batal.

 

  1. Gila

Gila yang terjadi pada seseorang yang sedang melakukan ibadah puasa, maka puasanya batal. Ulama membagi perkara ini ke dalam dua bagian :

  • Orang gila yang tetap berpuasa maka puasanya tidak sah dan tetap mengganti pada lain waktu selain bulan Ramadhan. Ia wajib berpuasa, namun dengan sengaja ia membuat dirinya gila, itulah yang membuat dirinya wajib mengganti puasa.
  • Orang yang gila secara tidak disengaja maka ia tidak wajib berpuasa. Dan jika ia tetap melaksanakan puasa, maka puasanya tidak sah dan apabila sudah sembuh, ia tidak wajib mengganti puasanya. Sebab gilanya bukan faktor kesengajaan.

 

  1. Murtad

Murtad yaitu suatu hal yang menyebabkan seseorang keluar dari agama Islam dengan contoh misal melakukan pengingkaran akan keberadaan Allah SWT sebagai suatu dzat yang tunggal. Disaat ia sedang menjalankan puasa, maka puasanya batal.

 

  1. Merokok

Merokok dapat membatalkan puasa karena asap rokok merupakan benda (ain) yang bisa masuk ke dalam lambung. Kecuali mencium wewangian.

 

Hal Hal yang Menghilangkan Pahala Puasa

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Puasa itu adalah perisai, apabila seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah mengucapkan ucapan kotor, dan jangan pula bertindak bodoh, jika ada seseorang yang mengganggunya atau mencelanya, hendaklah mengucapkan: seungguhnya aku sedang berpuasa,” (HR al-Bukhari: 1904).

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan yang haram dan mengamalkannya, ataupun bertindak bodoh, maka Allah tidak butuh dengan upaya dia dalam meninggalkan makan dan minumnya,” (HR al-Bukhari dalam Shahihnya).

  1. Mengucapkan kata-kata dusta atau bohong
  2. Menggunjing, menceritakan kejelekan orang lain, adu domba, dan sebagainya
  3. Mengucapkan kata-kata kotor, keji, sumpah serapah, ungkapan kotor akibar marah
  4. Memberi kesaksian yang tidak benar (palsu)
  5. Mengucapkan kata-kata yang tidak membawa manfaat
  6. Ucapan lantang atau teriakan, adu mulut dalam pertikaian
  7. Berbuat hasud (dengki) yang bisa merugikan orang lain
  8. Mencium perempuan yang bukan muhrimnya
  9. Melihat perempuan lalu timbul nafsu
  10. Melakukan pencurian
  11. Dan lain-lain

 

Hal Hal yang Tidak Membatalkan Puasa

  1. Makan dan minum karena lupa

Makan dan minum karena lupa atau keliru misalnya mengira sudah waktunya berbuka ternyata belum.

  1. Muntah tanpa disengaja

Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang mengalami muntah sedangkan ia dalam keadaan puasa maka tidak wajib atasnya mengqodho’.”  (Shahih, HR Hakim).

  1. Mencium isteri

Mencium isteri tidak membatalkan puaa, asalkan tidak sampai menyebabkan jima’ atau bersetubuh.

  1. Berkumur

Berkumur dan istinsyaq atau menghirup air ke dalam rongga hidung secara tidak berlebihan berarti tidak membatalkan puasa. Sesuai sabda Nabi SAW  kepada Laqith bin Shabrah,

“Sempurnakan wudhu’ dan sela-selailah jari jemari serta hiruplah air dengan kuat (istinsyaq) kecuali apabila engkau sedang berpuasa.” (Shahih, HR ahlus sunan).

  1. Menggunakan siwak

Boleh menggunakan siwak kapan saja termasuk ketika sedang berpuasa, boleh dijadikan sebagai sikat gigi dan pasta gigi dengan syarat tidak masuk ke dalam perut.

  1. Mencicipi makanan

Mencicipi makanan tidak membatalkan puasa, dengan syarat tidak masuk hingga ke dalam perut.

  1. Tetes mata

Bercelak dan meneteskan obat mata ke dalam mata atau telinga walaupun ia merasakan rasanya di tenggorokan, tidak menyebabkan puasa batal.

  1. Suntikan (injeksi)

Suntikan (injeksi) tidak membatalkan puasa, selain injeksi nutrisi dan sebagainya. Karena meskipun injeksi tersebut sampai ke lambung, tetapi sampainya tidak melalui jalur pencernaan yang lazim.

  1. Gigi putus dan mimisan

Gigi putus hingga mengeluarkan darah dan mimisan atau keluarnya darah dari hidung tidak membatalkan puasa.

  1. Inhaler atau obat semprot

Menggunakan obat-obatan yang tidak masuk hingga ke dalam pencernaan seperti salep, celak mata, atau obat semprot (inhaler) pada penyakit asma tidak menyebabkan puasa batal.

  1. Gelas masih di tangan ketika fajar telah terbit

Bila fajar telah terbit sedangkan gelas masih di tangannya, maka janganlah ia meletakkannya kecuali setelah ia menyelesaikan hajatnya. Nabi SAW bersabda,

“Apabila salah seorang dari kalian telah mendengar adzan dikumandangkan sedangkan gelas masih berada di tangannya, maka janganlah ia meletakkannya sampai ia menyelesaikan hajat¬-nya tersebut.” (Shahih, HR Abu Dawud).

Dari uraian di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa berpuasa adalah ternyata hal yang sangat sakral. Dan ketika kita menjalankannya kita tidak boleh sembarangan. Dari uraian di atas kita juga jadi lebih mengetahui bahwa ternyata banyak hal yang dapat membatalkan puasa dan ada pula perilaku yang kelihatannya membatalkan puasa namun sebenarnya tidak menyebabkan batal. Jadi melalui uraian di atas, sedikit banyak kita jadi lebih memahami perbedaan antara hal yang membatalkan puasa dan hal yang tidak membatalkan puasa.

Semoga dengan penjelasan diatas, ibadah puasa kita dapat menjadi lebih baik dan mendapatkan pahala yang sempurna. Serta lebih dijauhkan dari puasa yang bolong-bolong, karena itu hanya merugikan diri sendiri. Kecuali bagi seorang wanita yang sedang mengalami nifas dan haid karena itu merupakan suatu anugerah dari Allah SWT yang diturunkan kepada kaum muslim perempuan.

Mengenai semua hal yang telah disampaikan di atas tentu berdasarkan beberapa sumber dalam kitab-kitab fiqih dasar. Penulis berusaha menelusuri argumen yang mendasari sebuah hukum dihasilkan. Perlu diketahui bahwa menyimpulan dan melakukan interpretasi hukum langsung dari hadits dibutuhkan kearifan dan perangkat pemahaman yang tidak mudah.

Oleh karena itu, hadits-hadits yang dicantumkan dan beberapa uraian mengenai hal-hal yang membatalkan puasa, hal-hal yang menghilangkan pahala puasa, dan hal-hal yang tidak membatalkan puasa di atas merupakan sebagian dari yang bisa kami telusuri. Wallahu a’lam.

Leave a Reply