Ibukota Kalimantan Barat dan Sejarah Pendiriannya Serta Kuliner Khas yang Menggugah Selera

1. KALIMANTAN BARAT

Kalimantan barat adalah salah satu daerah di pulau Kalimantan, Indonesia. Kalimantan sendiri dibagi menjadi lima provinsi yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Selatan. Luas keseluruhan wilayah Provinsi Kalimantan Barat adalah 146.807 km2 (7,53% luas Indonesia). Dengan luas wilayah tersebut Kalimantan Barat dinobatkan sebagai provinsi terluas keempat setelah Papua, Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah.Daerah Kalimantan Barat mendapat julukan provinsi “Seribu Sungai”. Julukan ini patut disematkan karena kondisi geografis Kalimantan Barat yang mempunyai ratusan aliran sungai besar dan kecil yang di antaranya dapat bahkan sering dilayari oleh kapal-kapal pengangkut barang maupun kapal nelayan. Selain itu, beberapa sungai-sungai besar sampai saat ini masih merupakan urat nadi dan jalur utama untuk angkutan daerah pedalaman, walaupun prasarana jalan darat telah dapat menjangkau sebagian besar kecamatan. Namun transportasi laut banyak ditempuh karena lebih efektif.

Daratan provinsi Kalimantan Barat berbatasan langsung dengan negara bagian Sarawak, Malaysia. Walaupun sebagian kecil wilayah di provinsi Kalimantan Barat merupakan wilayah perairan laut, akan tetapi Kalimantan Barat juga memiliki puluhan pulau besar dan kecil (sebagian masih tidak berpenghuni) yang tersebar sepanjang Selat Karimata dan Laut Natuna yang berbatasan dengan wilayah Provinsi Kepulauan Riau, Sumatera.

Jumlah penduduk di Provinsi Kalimantan Barat menurut sensus pada tahun 2004 berjumlah 4.073.304 jiwa (1,85% penduduk Indonesia).

2. SEJARAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT

Indonesia merupakan negara dengan sejarah yang sangat panjang. Merebut kemerdekaan pada tahun 1945 tentunya banyak pula kisah yang dilalui bangsa ini. Begitupun dengan Kalimantan Barat sebagai salah satu provinsi di Indonesia, pastinya juga mempunyai sejarah. Menurut pedapat kakawin Nagarakretagama (1365), Kalimantan Barat menjadi taklukan kerajaan Majapahit, bahkan sejak zaman kekuasaan Singasari yang menamakannya Bakulapura atau Tanjungpura. Wilayah kekuasaan Tanjungpura membentang dari wilayah Tanjung Dato hingga Tanjung Sambar. Pada zaman dahulu, pulau Kalimantan kuno terbagi menjadi 3 wilayah negara kerajaan induk: Borneo (Brunei), Sukadana (Tanjungpura) dan Banjarmasin.

2.1 Tanjung Dato

Tanjung Dato adalah perbatasan wilayah mandala Borneo (Brunei) dengan wilayah mandala Sukadana (Tanjungpura), sedangkan Tanjung Sambar batas wilayah mandala Sukadana/Tanjungpura dengan wilayah mandala Banjarmasin (daerah Kotawaringin).

2.2 Sungai Jelai

Daerah aliran Sungai Jelai, di Kotawaringin di bawah kekuasaan Banjarmasin, sedangkan sungai Kendawangan di bawah kekuasaan Sukadana. Perbatasan di pedalaman, perhuluan daerah aliran sungai Pinoh (Lawai) termasuk dalam wilayah Kerajaan Kotawaringin (bawahan Banjarmasin).

2.3 Batang Lawai

Menurut Hikayat Banjar (1663), negeri Sambas, Sukadana dan negeri-negeri di Balitang Lawai atau Batang Lawai (nama kuno sungai Kapuas) pernah menjadi taklukan Kerajaan Banjar atau pernah mengirim upeti sejak zaman Hindu, bahkan Raja Panembahan Sambas telah menghantarkan upeti berupa dua biji intan yang berukuran besar yang bernama Si Giwang dan Si Misim.

2.4 Kerajaan Panembahan Sambas

Pada tahun 1604 untuk pertama kalinya Belanda menjalin perdagangan dengan Sukadana. Sejak tanggal 1 Oktober 1609, Kerajaan Panembahan Sambas menjadi daerah protektorat dibawah kuasa VOC Belanda. Walaupun belakangan negeri Sambas di bawah kekuasaan menantu Raja Panembahan Sambas yang merupakan seorang Pangeran dari negara Brunei, namun negeri Sambas tetap tidak termasuk dalam mandala negara Brunei.

Sesuai perjanjian pada tanggal 20 Oktober 1756 VOC Belanda berjanji akan membantu Sultan Banjar Tamjidullah I untuk merebut kembali daerah-daerah yang memisahkan diri di antaranya Sanggau, Sintang dan Lawai (Kabupaten Melawi), sedangkan daerah-daerah lainnya mereupakan daerah di bawah kekuasaan Kesultanan Banten, kecuali Sambas. Menurut akta tanggal 26 Maret 1778 negeri Landak dan Sukadana (sebagian besar Kalimantan Barat) diserahkan kepada VOC Belanda oleh Sultan Banten. Inilah wilayah yang mula-mula menjadi milik VOC Belanda selain daerah protektorat Sambas.

Pada tahun itu pula Syarif Abdurrahman Alkadrie yang dahulu telah dilantik di Banjarmasin sebagai Pangeran yaitu Pangeran Syarif Abdurrahman Nur Alam direstui oleh VOC Belanda sebagai Sultan Pontianak yang pertama dalam wilayah milik Belanda tersebut.

Di tahun 1789 Sultan Pontianak dibantu Kongsi Lan Fang diperintahkan VOC Belanda untuk menduduki negeri Mempawah dan kemudian menaklukan Sanggau. Pada tanggal 4 Mei 1826 Sultan Adam dari Banjar menyerahkan Jelai, Sintang dan Lawai (Kabupaten Melawi) kepada pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Tahun 1846 daerah kolonial Belanda di pulau Kalimantan memperoleh pemerintahan khusus sebagai Dependensi Borneo. Pantai barat Borneo terdiri atas asisten residen Sambas dan asisten residen Pontianak. Divisi Sambas meliputi daerah dari Tanjung Dato sampai muara sungai Doeri. Sedangkan divisi Pontianak yang berada di bawah asisten residen Pontianak meliputi distrik Pontianak, Mempawah, Landak, Kubu, Simpang, Matan, Sukadana, Tayan, Meliau, Sekadau, Sanggau, Sintang, Melawi, Belitang, Silat, Sapopoe Salimbau, Piassa, Boenoet, Jongkong, Malor, Taman, Ketan, dan Poenan .

Menurut Staatsblad van Nederlandisch Indie pada tahun 1849, 14 daerah di wilayah Kalimantan Barat termasuk dalam wester-afdeeling berdasarkan Bêsluit van den Minister van Staat, Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indie, pada 27 Agustus 1849, No. 8. Pada 1855, negeri Sambas dimasukan ke dalam wilayah Hindia Belanda menjadi Karesidenan Sambas.

Menurut Hikayat negeri Malaysia, Brunei, dan Singapore wilayah yang tidak bisa dikuasai dari kerajaan Hindu sampai kesultanan Islam di Kalimantan kebanyakan dari Kalimantan Barat seperti Negeri Sambas dan sekitarnya, dan menurut Negara Brunei Darussalam Hikayat Banjar adalah palsu dan sengaja dibuat-buat serta bukan buatan kesultanan Banjar sendiri melainkan dari tangan-tangan yang ingin merusak nama Kalimantan Barat dan disebarluaskan keseluruh pelosok Indonesia hingga luar negeri sampai saat ini, karena menurut penelitian para ahli psikolog di dunia. Negeri Sambas tidak pernah kalah dan ditaklukan oleh Negara manapun.

Pada era pemerintahan Hindia Belanda berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal yang dimuat dalam STB 1938 No. 352, yang berisi antara lain mengatur dan menetapkan bahwa ibukota wilayah administratif Gouvernement Borneo bertempat di Banjarmasin dibagi atas 2 pemerintahan, salah satu di antaranya adalah Residentie Westerafdeeling Van Borneo dengan ibukota Pontianak yang dipimpin oleh seorang Residen.

Lalu pada tanggal 1 Januari 1957 Kalimantan Barat resmi menjadi provinsi yang berdiri sendiri di Pulau Kalimantan, Indonesia berdasarkan Undang-undang Nomor 25 tahun 1956 tanggal 7 Desember 1956. Undang-undang tersebut juga menjadi pedoman pembentukan dua provinsi lainnya di pulau terbesar di NKRI itu. Kedua provinsi tersebut adalah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.

3. BAHASA

Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional merupakan bahasa yang secara umum dipakai oleh masyarakat di provinsi Kalimantan Barat. Selain itu, bahasa penghubung juga dipergunakan di provinsi ini, yaitu Bahasa Melayu Pontianak, Melayu Sambas dan Bahasa Senganan. Namun, juga terdapat beragam jenis Bahasa Dayak.

Menurut penelitian yang dilakukan Institut Dayakologi terdapat 188 dialek yang dituturkan oleh suku Dayak dan Bahasa Tionghoa seperti Tiochiu dan Khek/Hakka. Dialek yang di maksudkan dan digunakan suku Dayak ini adalah bahasa yang memiliki banyak kemiripan dengan bahasa Melayu, hanya kebanyakan mempunyai perbedaan di ujung kata seperti makan (Melayu), makatn (Kanayatn), makai (Iban) dan makot (Melahui).

Namun, khusus untuk rumpun Uut Danum, bahasanya bisa dikatakan berdiri sendiri, berbeda, dan bukan merupakan dialek dari kelompok Dayak lainnya yang satu sama lain mempunyai kemiripan. Dialeknya justru memiliki beberapa sub suku seperti Dayak Uut Danum. Seperti pada bahasa sub suku Dohoi misalnya, untuk mengatakan makan saja terdiri dari minimal 16 kosa kata yang harus diucapkan, mulai dari yang paling halus / sopan sampai ke yang paling kasar. Misalnya saja ngolasut (sedang halus), kuman (umum), dekak (untuk yang lebih tua atau dihormati), ngonahuk (kasar), monirak (paling kasar) dan Macuh (untuk arwah orang mati).

Bahasa Melayu di Kalimantan Barat terdiri atas beberapa jenis, antara lain bahasa Melayu Sambas dan bahasa Melayu Pontianak. Bahasa Melayu Pontianak sendiri memiliki logat dan ciri khas yang sama dengan bahasa Melayu Riau ,Melayu Malaysia, dan Melayu Sarawak.

4. PENGERTIAN IBUKOTA

Ibukota adalah satu daerah terpenting baik dalam suatu negara maupun provinsi. Biasanya, ibukota digunakan untuk pusat pemerintahan dan pusat ekonomi sebuah bangsa. Berbondong-bondong masyarakat sebuah negara datang ke ibukota untuk mencari nafkah. Sebagai pusat bisnis tentu saja peluang kerja di sebuah ibukota lebih luas bagi masyarakat. Indonesia sendiri mempunyai ibukota negara yaitu Jakarta dan 33 ibukota provinsi lainnya.

Ibukota provinsi ditentukan berdasarkan letak geografis dan unsur-unsur lainnya. Sebagai pusat pemerintahan sebuah ibukota provinsi daerah tersbut harus memiliki akses yang baik untuk memudahkan transportasi atau alur perjalanan untuk orang yang ingin berkunjung. Selain itu, faktor alam dan luas wilayah juga akan mempengaruhi terpilihnya sebuah daerah menjadi ibukota.

Tapi pernahkah kamu berfikir kenapa kawasan yang ditunjuk sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi suatu provinsi ataupun negara dalam bahasa Indonesia diberi nama Ibukota ? pemilihan kata tersebut bergantung pada nilai rasa yang terbangun dalam kehidupan sosial-masyarakat. Budaya Nusantara, baik dalam cerita maupun sejarahnya, menempatkan ibu dalam posisi penting dan berpengaruh.

Penggunaan kata “ibu” yang dalam kamus bahasa indonesia berarti seorang perempuan yang sudah melahirkan ana menunjukkan bahwa bangsa dan budaya Indonesia menempatkan perempuan dalam posisi penting. Misalnya, sejak zaman dahulu pun, di Nusantara sudah dikenal sejumlah ratu dalam kisah mitologi kuno yang berkuasa di sebuah kerajaan, seperti Gayatri Rajapatni yang merupakan Ibu Suri Kerajaan Majapahit, Tribhuwana Wijayatunggadewi –putri Gayatri yang menjadi Ratu Majapahit, atau Ratu Shima dari Kerajaan Kalingga.

“Sejak zaman dahulu, seorang ibu sudah dianggap ‘sakti’. Cerita-cerita rakyat dan legenda di Indonesia kebanyakan alurnya selalu dimulai dari semacam buluh bambu, kemudian keluar buih, lahirlah putri dan menghasilkan suatu masyarakat tertentu. Seperti contoh cerita Malin Kundang yang kurang ajar pada ibunya, dan pada akhirnya dia dikutuk menjadi batu oleh ibu kandungnya.
Kata “ibu” juga menduduki posisi terhormat bukan hanya dalam bahasa Indonesia. Namun dalam bahasa Inggris, “ibu” (mother) juga menjadi kata terindah dalam kehidupan manusia.
Berdasarkan polling yang dilakukan The British Council pada tahun 2004 dengan sample 40.000 orang dari 102 negara, hasilnya mayoritas memilih “mother” sebagai kata terindah.

5. IBUKOTA KALIMANTAN BARAT

Setiap provinsi atau negara selalu mempunyai Ibukota sebagai pusat pemerintahan dan fungsi kenegaraan lainnya. Jika masyarakat di Dunia mengenal Roma sebagai ibukota Italia dan Paris sebagai ibukota Perancis, begitupun dengan provinsi Kalimantan Barat yang mempunyai Ibukota provinsi bernama Pontianak dengan luas mencapai 107.8 km².

Salah satu daerah di Indonesia yang dilewati garis khatulistiwa ini dikenal sebagai daerah yang luas dan memiliki tanah yang subur. Ibu kota Kalimantan Barat ini adalah kota yang paling sukses dalam membranding garis khatulistiwa sebagai ikon kota Pontianak. Sekarang, monumen khatulitiwa bukan hanya sekedar menjadi penanda. Namun telah menjadi objek wisata terpadu yang menarik dan digunakan sebagai obyek foto yang menarik wisatawan baik asing maupun dalam negeri.

Pada tanggal 24 Rajab 1181 Hijriah silam yang bertepatan pada tanggal 23 Oktober 1771 Masehi, rombongan Syarif Abdurrahman Alkadrie membuka hutan di persimpangan tiga Sungai Landak Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Kapuas untuk mendirikan balai dan rumah sebagai tempat tinggal dan tempat tersebut diberi nama Pontianak. Berkat kepemimpinan Syarif Abdurrahman Alkadrie, Kota Pontianak berkembang menjadi kota Perdagangan dan Pelabuhan.

Tahun 1192 Hijriah, Syarif Abdurrahman Alkadrie dinobatkan sebagai Sultan Pontianak Pertama. Letak pusat pemerintahan ditandai dengan berdirinya Mesjid Raya Sultan Abdurrahman Alkadrie dan Istana Kadariah, yang sekarang terletak di Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur.
Adapun Sultan yang pernah memegang tampuk Pemerintahan Kesultanan Pontianak:

 

  1. Pemerintahan Syarif Abdurrahman Alkadrie dari tahun 1771-1808
  2. Pemerintahan Syarif Kasim Alkadrie dari tahun 1808-1819
  3. Pemerintahan Syarif Osman Alkadrie dari tahun 1819-1855
  4. Pemerintahan Syarif Hamid Alkadrie dari tahun 1855-1872
  5. Pemerintahan Syarif Yusuf Alkadrie dari tahun 1872-1895
  6. Pemerintahan Syarif Muhammad Alkadrie dari tahun 1895-1944
  7. Pemerintahan Syarif Thaha Alkadrie dari tahun 1944-1945
  8. Pemerintahan Syarif Hamid Alkadrie memerintah dari tabun 1945-1950

6. MAKANAN KHAS KOTA PONTIANAK

6.1 Choi Pan / Chai Kwe

Makanan khas Pontianak yang pertama adalah Chai Kwe atau Choi Pan. Meskipun kue ini merupakan jajanan khas kaum Tionghoa, tapi kue ini halal dan sangat terkenal di Pontianak. Bahan makanan ini terdiri dari sayur-sayuran seperti kucai, kacang, bengkoang, rebung, dan talas dibungkus dengan adonan tepung beras. Kemudian, di atas kue ini diberi taburan bawang putih goreng sehingga rasanya semakin sedap ketika dimakan dan semakin menarik dalam penyajiannya.

Chai Kwe bisa disajikan dengan cara dikukus maupun digoreng. Kamu hanya tinggal memilih sajian kue ini sesuai selera. Beberapa pedagang Chai Kwe juga menambahkan saus khas yang bikin kue ini semakin nikmat dan harganyapun tidak menguras kantong.

6.2 Bakmi Kepiting

Di daerah Jakarta dan sekitarnya sudah banyak rumah makan yang menjual menu Bakmi Kepiting yang lezat. Sayangnya, makanan khas Pontianak ini masih jarang dijumpai di kota-kota lain. Jadi, ketika Anda berada di Pontianak jangan lewatkan kesempatan untuk menyantap nikmatnya Bakmi Kepiting langsung dari kota asalnya. Perairan yang luas di wilayah Kalimantan Barat membuat Pontianak mempunyai supply hasil perikanan yang cukup melimpah seperti Kepiting.

Kalau dilihat sekilas bakmi ini memang serupa dengan mie ayam biasa yang sering kita jumpai. Akan tetapi, topping atau isian bakmi ini bukan daging ayam, melainkan berisi sumpit kepiting asli, fish cake, bakso ikan, dan pangsit goreng. Bakmi kepiting disajikan dengan kuah yang gurih dan sambal pedas manis yang akan menambah selera makan kamu khususnya penikmat kuliner pedas. Dijamin citarasa bakmi kepiting akan membuat kamu rindu akan Pontianak dan segala yang ada di dalamnya.

6.3 Sotong Pangkong

Cumi ? Mungkin kamu sudah familiar dengan berbagai olahan cumi. Cumi yang digoreng atau ditumis mungkin sudah biasa. Ketika berada di Pontianak, kamu harus mencoba Sotong Pangkong. Ini adalah olahan cumi-cumi yang dimasak dengan cara dipanggang. Cara mengolahnya yaitu cumi dijemur sampai kering, lalu dipanggang sampai matang. Setelah matang, cumi akan dipukul-pukul agar teksturnya lebih empuk dan tidak alot ketika dimakan.

Banyak orang yang menikmati sotong pangkong khas Pontianak ini dengan kuah sambal kacang atau sambal pedas manis. Sotong pangkong lebih disarankan untuk dimakan tanpa nasi karena citarasanya akan terasa lebih kuat. Makanan lebih sering ditemui pada saat bulan puasa saja, tetapi di luar Bulan Ramadhan masih banyak pedagang yang menjual makanan ini karena banyaknya peminat kuliner Sotong Pangkong.

 

 

 

 

 

Leave a Reply