Mengenal Lebih Dalam Ibu Kota Kalimantan Timur, Samarinda

Ibu kota Kalimantan Timur atau Samarinda, merupakan kampung halaman bagi sebagian orang dan tak jarang menjadi kota tujuan wisata karena Samarinda dinilai eksotik di sisi timur Pulau Kalimantan. Apabila Ibukota Kalimantan Timur ini akan kamu jadikan sebagai destinasi liburanmu, berikut beberapa informasi unik mengenai budaya dan kehidupan masyarakat Samarinda yang perlu kamu ketahui.

 

Ibu kota Kalimantan Timur disebut Kota Kompor

Samarinda banyak orang menyebutnya kota kompor. Karena cuaca di Kota Samarinda memang sangat panas. Letakkan saja telur di jalan aspal pada siang hari, niscaya telur tersebut akan masak hingga ke bagian kuningnya. Selain panas, debu juga banyak beterbangan dari truk-truk dan tronton yang bermuatan pasir.

Di kota Samarinda, panas sudah terasa sejak pukul 9 pagi hingga pukul 12 siang. Pada tengah hari, awan kelabu akan menutupi kota ini sehingga jarang turun hujan. Apabila cuaca panas seharian, pada pukul 3 puncak panas akan membuat baju para pengendara kendaraan bermotor seperti habis disetrika tiga gesekan.

 

Lebaran di Kota Samarinda

Salah satu hal yang dilarang untuk dilakukan ketika lebaran di Ibu kota Kalimantan Timur ini adalah menolak makanan. Jangan sekali-kali menolak makanan atau minuman ketika disuguhkan. Karena berdasarkan tradisi orang Samarinda, itu merupakan hal yang pamali dan tidak sopan. Pamali dalam tutur lokal Samarinda meupakan hal yang dapat berupa tulah, kesialan bahkan celaka. Meskipun kamu sudha kenyang atau tidak doyan dengan makanan yang disuguhkan, kamu tetap harus menyantapnya. Minimal mencuil sedikit untuk sekedar mencicipi.

 

Samarinda Merupakan Kota Industri

Ibu kota Kalimantan Timur ini merupakan kota industri. Banyak orang memilih Samarinda sebagai kota untuk mengadu nasib. Banyak orang memilih tinggal di Samarinda karena upah minimum kerja di kota ini tergolong tinggi. Iya, UMK Kota Samarinda pada tahun 2017 sebesar Rp 2.400.000. namun biaya hidup di kota ini juga tergolong mahal dibandingkan dengan daerah lain. Contoh, biaya untuk makan malam rata-rata menghabiskan Rp 20.000 untuk sekali makan. Samarinda berbeda tipe dengan Bali, Raja Ampat dan Pulau Derawan yang terkenal dengan wisatanya.

 

Ibu Kota Kalimantan Timur yang Menawan

Samarinda terlihat menawan dengan sungai yang terdapat di tengah kota. Sungai tersebut membelah kota Samarinda menjadi dua bagian. Sungai tersebut bernama Sungai Mahakam. Jika kamu dari Balikpapan, kamu pasti akan melewati sungai ini. Sungai Mahakam berwarna kuning keemasan yang biasanya dilintasi oleh kapal-kapal pengangkut batu bara. Daerah di sekitar sungai merupakan tempat yang teduh, sebuah tempat yang ideal untuk kamu bisa berkumpul bersama teman untuk menenangkan diri. Ada mitos mengatakan, kalau “Sekali meminum air Mahakam, kamu pasti akan kembali ke sini lagi.”

 

Angkot “A” di Samarinda

Yang perlu dipahami jika Anda ingin berkunjung ke ibu kota Kalimantan Timur ini adalah angkot atau angkutan umum. Di Samarinda tidak ada bus, kereta atau trem. Satu-satunya transportasi di kota ini adalah angkot, yang oleh warga Samarinda disebut “taksi”. Padahal di daerah lain, taksi umumnya adalah moda transportasi umum yang menggunakan argometer sebagai penanda tarifnya. Di Samarinda juga terdapat taksi berargo meter, namun keberadaannya kurang populer, karena terbilang mahal untuk ukuran jarak tempuh yang dekat.

Sehingga bisnis taksi berargo meter di Samarinda kurang menguntungkan karena kurang dibutuhkan warga untuk saat ini. Lagipula, sebagian warga Samarinda juga telah memiliki kendaraan motor pribadi. Dalam lima tahun terakhir, taksi (Angkot) di Samarinda sepi penumpang. Kebanyakan masyarakat yang masih menggunakan transportasi umum ini adalah kaum ibu-ibu, lansia dan pelajar yang tidak bisa menggunakan sepeda motor. Jadi, jangan keliru ya, Kalau ke Samarinda kamu menanyakan taksi, mereka akan kasih tunjuk Angkot ke kamu.

 

Nasi Kuning Setiap Pagi

Pagi hari di Samarinda adalah tentang nasi kuning. Meskipun nasi kuning bukan makanan khas Samarinda, namun nasi kuning telah menjadi bagian dari kota ini. hampir di seluruh wilayah Samarinda, Anda menemukan penjual nasi kuning setiap pagi. Nasi kuning memang telah menjadi menu sarapan pagi warga Samarinda sejak dulu. Nasi kuning Samarinda rasanya lebih gurih dan kaya akan bumbu, berbeda dengan nais kuning di daerah lain. Untuk kamu yang berencana ingin berlibur ke Samarinda, kamu harus menyempatkan diri mengunjungi kampung nasi kuning untuk menyantapnya.

 

Pengemis dan Pengamen

Sama halnya dengan daerah lain, di Samarinda juga ada pengemis dna pengamen. Mereka biasanya tersebar di pusat-pusat kota dan jalan-jalan besar. Pengemis dan pengamen Samarinda rata-rata adalah anak kecil atau remaja dengan style alay. Mereka membawa peralatan musik seadanya dan menyanyikan sebuah lagu yang akan menambah polusi suara setelah suara kendaraan. Banyak juga anak kecil yang dieksploitasi untuk menjual koran dan dibiarkan tidak sekolah oleh orang tuanya. Belum ada keseriusan pemerintah wilayah Samarinda untuk menangani masalah ini, sehingga kebanyakan warga Samarinda lebih memilih Balikpapan sebagai kota terbaik di Provinsi Kalimantan Timur.

 

Ibu Kota Kalimantan Timur Sering Dilanda Banjir

Secara geografis, Samarinda terbilang aman dari bencana tsunami, gunung berapi maupun gempa bumi. Namun ketika hujan deras berlangsung lama, Samarinda akan dilanda banjir di beberapa titik daerah. Banjir merupakan masalah klasik di kota ini. Disadari atau tidak, sebenarnya banjir bukan sepenuhnya salah alam, namun akibat dari ulah manusia sendiri.

 

Samarinda Belum Pernah Mendapat Piala Adipura

Jaka Dara Kota Medan memegang piala Adipura

Piala Adipura merupakan penghargaan yang diberikan untuk kota paling bersih dan rapi se-Indonesia. Dan Samarinda belum pernah sekalipun mendapatkannya. Banyak warga Samarinda yang iri dengan warga Medan yang hampir setiap tahun mendapatkan piala tersebut. Selain karena sering terjadi banjir, mungkin kesadaran masyarakat Samarinda akan pentingnya lingkungan kurang.

 

Samarinda dan Soto Banjar

Ketika kamu jalan-jalan keliling kota Samarinda, coba perhatikan warung-warung atau rumah makan sepanjang jalan disana. Pasti banyak dan tidak jauh dari hidangan soto. Soto apa saja yang populer dan digemari oleh masyarakat Samarinda? Ada Soto Lamongan, Soto Banjar dan Coto Makassar. Nah, Soto Banjar merupakan ciri khas Kota Samarinda, dengan pilihan tambahan, “mau pakai nasi atau ketupat?”

Dan masih banyak orang Samarinda yang masih awam dengan suguhan menu western. Meskipun telah banyak restoran yang menawarkan makanan dengan selera empor, soto tetap makanan nomor satu bagi masyarakat Samarinda dan tidak pernah membosankan.

 

Masyarakat Samarinda dan Garam

Apa hubungan antara garam dan masyarakat Samarinda? Masyarakat Samarinda memiliki kebiasaan unik ketika makan buah. Jika kamu punya rencana berkunjung ke Samarinda, coba ngeriung bareng orang Samarinda. Potong beberapa buah seperti nanas, pepaya, buah naga, nangka dan lain-lain. Jangan heran ketika mereka mengambil garam dapur untuk dicocol bersama buah-buahan tersebut. Bagi orang Samarinda, memakan buah akan lebih semarak dengan sensasi asin di mulut. Garam merupakan pendamping wajib jika ingin makan buah dengan nikmat. Awalnya memang terasa aneh, namun setelah itu, dijamin nagih. Orang Samarinda memiliki sebutan khas untuk menyantap buah dengan garam yaitu pencok.

 

Sosialita Samarinda, Fakta atau Mitos?

Sebenarnya status sosialita bisa disematkan untuk seorang individu maupun sekumpulan individu. Perbedaan nyata antara Sosialita asli dan bajakan adalah cara mereka merespons. Sosialita asli tidak gampang terusik, diketahui atau tidak diketahui sebagai orang kaya, mereka tetap kaya. Tidak kerepotan. Sebaliknya, Sosialita imitasi harus menunjukkan pada orang lain bahwa mereka kaya. Seolah-olah tanpa pengakuan itu, harga diri mereka belum utuh.

Di Samarinda, besar kemungkinan tetap ada sosialita sungguhan di kota ini. Meskipun tidak sesanter gaya para anggota Socialite Wannabe. Yaitu mereka yang selalu memanfaatkan media sosial untuk pamer barang-barang mahal, pamer kedekatan dengan selebritis atau orang terkenal, pamer suasana liburan dan lain-lain.

Secara konkret, kumpulan para ibu-ibu pejabat umum disebut kelompok sosialita, whether they enjoy it or not. Kumpulan bapak-bapak doyan golf pun demikian. Termasuk pula kumpulan orang yang selalu bersaing, tidak sudi kalah gengsi dibanding rekan-rekan sekumpulannya. Mendapat keistimewaan berkunjung dan hadir di tempat-tempat yang terbatas untuk kalangan tertentu.

 

Warga Samarinda, Senang Mencoba Hal Baru

Strategi pemasaran terbaik di Kota Samarinda adalah words of mouth atau kekuatan mulut ke mulut. Dengan modal sugesti dari orang lain, warga Samarinda rela mengantre sepanjang 200 meter hanya untuk mendapatkan makanan yang sedang ramai dibicarakan. Setelah mendapatkan kesempatan untuk mencobanya, mereka akan menilai. Jika memang enak, mereka akan kembali lagi dan jika tidak, produk tersebut akan ditinggalkan. Warga Samarinda biasanya lebih tertarik membeli suatu produk berdasarkan testimoni teman daripada info dari baliho yang tersebar dimana-mana. Produk yang telah sukses dengan strategi ini adalah bakso bakat dan roti durian.

 

Samarinda Akrab dengan Pemadaman Listrik

Saat Jakarta sering heboh dengan pemadaman listrik selama 4 jam, banyak masyarakat dan media nasional yang mengkritik Jakarta mengadakan pemadaman bergilir. Coba lihat Samarinda teman-teman, mereka telah akrab sekali dengan mati lampu, apakah ini adil?

Samarinda hampir selalu mengalami pemadaman listrik rata-rata 3 kali dalam satu minggu. Dan durasi satu kali mati lampu bisa selama 12 jam. Hal ini lah yang sering dikeluhkan oleh warga Samarinda. Mereka merasa tidak nyaman, karena banyak sekali pekerjaa yang harus menggunakan listrik. Listrik merupakan kebutuhan pokok. Listrik dibutuhkan untuk memasak, bekerja, mengisi daya baterai dan lain-lain. Dan entah sampai kapan masalah ini berlangsung.

 

Kota Samarinda itu Semrawut?

Di Samarinda, pengaturan tata letak kota seperti bangunan dan jalan memang terbilang semrawut. Dan jalan-jalan yang jauh dari wilayah pemerintah terbilang kurang dirawat. Pada jalan-jalan tersebut, kita bisa dengan mudah menemukan lubang sedalam 30 cm bahkan 1 meter! Gang-gang lebih banyak mendominasi, jalanan semen yang hancur dan got-got hitam mengurangi nilai keindahan kota Samarinda. Banyak bangunan berdempet dan papan iklan penuh tulisan serta kabel-kabel yang semrawut menjadi pemandangan kota Samarinda. Sayang sekali ya?

 

“Terang Bulan” di Samarinda

Terang bulan di Samarinda, tidak ada hubungannya dengan atronomi. Di Samarinda, terang bulan merupakan sebutan untuk martabak manis yang isinya taburan meses, kacang, wijen dan sebagainya. Namun saat ini, topping martabak manis makin beragam, dengan ditambah keju, durian, pisang, Nutella, Ovomaltine bahkan coklat Toblerone. Kalau mau pesan martabak manis di Samarinda, bilangnya Terang Bulan ya. Mungkin kebanyakan dari kita membedakan martabak pada dua jenis, yaitu martabak telur dan martabak manis. Namun di Samarinda, sebutan martabak hanya untuk martabak telur saja. Jangan sampai salah pesan ya.

 

Bubur Ayam Samarinda

Menurut pengertian umum, bubur yaitu beras yang dimasak dengan kadar air yang banyak atau melimpah. Dan ketika matang hasilnya lebih lembek dari nasi. Tekstur bubur yang lembut ini akan memudahkan sistem pencernaan untuk mengolahnya, bahkan saat Anda malas mengunyah, Anda bisa langsung menelannya. Ditambah dengan kecap manis atau asin saja, bubur sudah terasa sangat enak. Apalagi jika ditambah dengan suwiran daging ayam atau sate telur puyuh dan sate usus.

Di Samarinda, ada yang unik mengenai cara menikmati bubur ayam. Kamu bisa mendatangi beberapa warung Bubur Ayam Samarinda, dan jangan kaget bila yang datang ialah serupa soto. Ya, bubur ayam di Samarinda memang diberi kuah hingga cukup menggenang bahkan sampai bubur itu diaduk. Bubur ayam Samarinda jadi terlihat seperti hidangan sup. Orang Samarinda memang menyukai makanan berkuah, jadi tidak heran jika menu yang sudah lembek seperti bubur tetap kurang afdol bila tidak disiram kuah.

 

Oleh-oleh Khas Samarinda

Untuk kamu yang pergi ke Samarinda hanya untuk berkunjung dan tidak berniat menetap disana, Samarinda memiliki oleh-oleh khas yang bisa kamu bawa sebagai oleh-oleh ke daerah asal kamu. Oleh-oleh khas Samarinda ialah berupa makanan ringan yang merupakan makanan khas Samarinda, seperti amplang, lempok durian, roti durian, kue batu bara, dan lain-lain.

 

Hiburan di Ibu kota Kalimantan Timur

Hiburan bagi warga Samarinda dalah pergi ke Islamic Center. Orang-orang bisa beribadah dengan khusyuk disana. Islamic Center juga dijadikan tempat berkumpul oleh para remaja Samarinda. Di tepian Islamic Center pada pagi, siang dan malam hari warga bisa menikmati angin semilir dan menikmati makanan yang disajikan para penjual seperti es campur, k-i-k-i-l, keripik, dna lain-lain.

Pada siang hari yang panas, mereka biasanya pergi ke mall-mall seperti Plaza Mulia, Lembusuwana, dan SCP. Hanya ada satu bioskop yaitu terletak di SCP. Dan biasanya disana merupakan tempat bagi warga kelas menengah untuk bisa memanjakan diri dan terlepas sejenak dari hancurnya estetika kota Samarinda.

Ada pula donat JCO yang disukai oleh banyak warga Samarinda, dan merupakan donat paling lezat di Samarinda. Bagi warga menengah ke bawah, hiburan alternatif adalah bersilaturahim ria dengan tetangga membicarakan apapun yang sedang hangat terjadi, membeli makanan yang dijual di pinggir-pinggir jalan atau naik odong-odong ria bersama kawan-kawan dengan lagu yang membuat pekak sebagian telinga orang-orang.

 

Inilah beberapa fakta Ibu kota Kalimantan Timur, Samarinda. Meski banyak kekurangannya, tapi warga Samarinda tetap mencintai kota ini apa adanya. Meski ada apanya, itu sebagai nilai plus untuk menambah kesan mewah kota Samarinda dan memberikan hiburan tambahan bagi warganya. Jadi, jika kamu ingin berkunjung ke kota Samarinda, persiapkanlah tabir surya, masker, dan jaket putih atau warna terang ya. Selamat menikmati Samarinda!

Leave a Reply