Kerajaan Demak

3 min read


kerajaan demak

Kerajaan Demak – Kerajaan Islam yang pertama ditanah Jawa. Semua Raja pada pemerintahan Kerajaan Demak, diyakini menganut ajaran Agama Islam. Kerajaan ini juga menjadi salah satu pelopor penyebaran Islam terbesar di Nusantara, khususnya Pulau Jawa

Membahas tentang Kerajaan Demak, tentunya tidak terpisahkan dengan kisah para Muballigh, yang mempunyai visi misi tentang menyebarkan Agama Islam di Pulau Jawa. Dikenal dengan nama Wali Songo, yang berarti sembilan wali atau sembilan utusan.

Untuk info lebih lanjut, silahkan disimak artikel berikut.

Sejarah Berdiri

kerajaan demak
Kerajaan Demak

Menurut sejarah Jawa, Kerajaan Demak atau yang biasa dikenal dengan Kesultanan Demak ini, berdiri sebagai pengganti Kerajaan Majapahit, karena diyakini bahwa para pendiri kerajaan ini adalah keturunan dari Raja Majapahit (Brawijaya V).

Dahulu, Kerajaan Demak merupakan daerah kekuasaan Kerajaan Majapahit, yang disebut dengan Kadipaten. Sebelum disebut Kadipaten, orang lebih mengenal Demak dengan sebutan Glagah Wangi. Glagah Wangi ini dipimpin oleh seorang Adipati yang beragama Islam.

Di Glagah Wangi inilah, Raden Patah bertemu dengan seseorang yang bernama Nyai Lembah, asal Rawa Pening. Nyai Lembah menyarankan Raden Patah agar bermukim di Glagah Wangi.

Dalam Perkembangannya, Glagah Wangi ini berubah nama menjadi Bintara (dibaca Bintoro) Demak serta dijadikan ibukota seiring banyaknya masyarakat yang bermukim disini.

Ada beberapa ahli yang berpendapat, mengapa dinamakan Demak, yaitu :

  1. Prof. R.M. Sutjipto Wirjosuparto, Demak sendiri berasal dari Jawi, berarti Pemberian atau Pegangan.
  2. Prof. Purbotjaroko, awal dari kata Dalemak, yang berarti Tanah yang banyak air / rawa.
  3. Sholichin, dalam bukunya yang berjudul “Sekitar Walisongo”, mengatakan bahwa Prof. Dr. Hamka menyatakan, Demak berasal dari turunan Bahasa Arab “Dimak”, ynag berarti air mata. Menggambarkan bahwa sulitnya menegakkan ajaran Islam pada masa itu.

Letak Kerajaan

Menurut penelitian dari IAIN Wali Songo Di Jawa Tengah tahun 1974M, menyebutkan bahwa letak Kesultanan Demak, antara lain :

  1. Menjelaskan bahwa, tidak ada sisa dari Kesultanan Demak. Ajaran Islam yang disebarkan oleh Raden Patah shanya untuk kepentingan Islam itu sendiri. Kesultanan Demak pun, mendirika Masjid Demak dengan dibantu oleh Wali Songo. Tempat yang didiami oleh Raden Patah, bukanlah istana yang megah, melainkan rumah kecil biasa yang dinamakan “Rowobatok” (disekitar Stasiun Kereta).
  2. Umumnya, berdirinya Masjid – Masjid tidak jauh dari istana. Dibagian timur Alun – alun, sekarang Lembaga Pemasyarakatan adalah letak Keraton Demak. Ada unsur kesengajaan untuk menghilangkan bekas Keraton, saat zaman kolonial. Dibuktikan dengan adanya nama perkampungan yang memiliki latar belakang Kesultanan, seperti Betengan, Sampangan, Jogoloyo, Pungkuran serta Sitihingkil / Setinggil.
  3. Tanda dua pohon pinang yang digunakan untuk menyebrangi sungai, menunjukkan bahwa letak Keraton berhadapan langsung dengan Masjid Agung. Diantara pohon pinang itu, terdapat sebuah makam Kyai Gunduk. Sampai saat ini, kedua pohon tersebut masih berdiri tegak, yang menurut masyarakat setempat, bahwasannya yang ditanam itu adalah sebuah Tombak (Pusaka).

Baca Juga : Kerajaan Tarumanegara

Raja – Raja Kerajaan Demak

1. Raden Patah (1500M – 1518M)

Raden Patah dikenal dengan Pangeran Jimbun, yang bergelar Sultan Alam Akbar Al-Fatah. Pada masa kepemimpinannya, Raden Patah mendirikan sebuah Masjid yang dinamakan Masjid Agung Demak, yang terletak ditengah Alun = Alun Demak.

Posisi kerajaan semakin genting, saat Malaka direbut oleh Portugis. Raden Patah mengutus anaknya, yang bernama Pati Unu. Bersama pasukannya, Pati Unus pergi ke Malaka untuk menyerang Portugis di tahun 1513M. Serangan ini, tidak membuahkan hasil karena persenjataan yang kurang berimbang.

2. Pati Unus (1518M – 1521M)

Raden Patah yang wafat tahun 1518M, digantikan perannya oleh Pati Unus. Walaupun saat penyerangan ke Malaka untuk melawan Portugis gagal, tapi tetap Pati Unus adalah seorang panglima perang yang gagah, berani, serta disegani oleh rakyat Demak. Pati Unus diberi gelar Pangeran Sabrang Lor.

Pati Unus kembali membuat strategi perang untuk menyerang Katir. Dia bermaksud untuk melakukan blokade pasukan Portugis. Kali ini, strategi Pati Unus berhasil, menghadang stok makanan untuk para pasukan Portugis, sehingga membuat mereka kelaparan.

Baca Juga : Kerajaan Kutai

3. Sultan Trenggono (1521M – 1546M)

Sultan Trenggono menggantikan peran kakaknya, Pati Unus. Karena Pati Unus tidak memiliki keturunan. Ditangan Sultan Trenggono, Kesultanan Demak mengalami masa keemasan. Memimpin Demak dengan bijaksana, Sultan Trenggono pun mampu menguasai kekuasaannya sampai ke Jawa Timur dan Jawa Barat.

Di tahun 1522M Sultan Trenggono, mengirim pasukannya ke wilayah jajahan Portugis di Jawa Barat, yaitu Sunda Kelapa. Pasukan Demak yang kala itu dipimpin oleh Fatahillah. Hingga ditahun 1527M, Fatahillah beserta pasukannya berhasil mengusir penjajah itu dari Sunda Kelapa. Setelah perginya Portugis, Sunda Kelapa diganti nama menjadi Jayakarta, yang berarti kemenangan yang sempurna. Yang saat ini kita kenal sebagai Jakarta.

Cita – Cita Sultan Trenggono adalah menyatukan Pulau Jawa dibawah Kesultanan Demak. Untuk mewujudkan impiannya tersebut, Sultan Trenggono menikahkan puterinya dengan seorang Bupati di Madura serta mengambil putera Bupati Pengging, yaitu Joko Tingkir sebagai menantu.

Sultan Trenggono wafat tahun 1546M, ketika penyerangan ke daerah Pasuruan yang dipimpin langsung olehnya.

4. Sunan Prawata (1546M – 1547M)

Setelah meninggalnya Sultan Trenggono, terjadi sengketa di Kesultanan Demak antara Raden Mukmin dengan Pangeran Surowito. Pangeran Surowito terbunuh, setelah melaksanakan Shalat Jum’at tahun 1546M.

Tahta kerajaan jatuh kepada Raden Mukmin dan bergelar Sunan Prawata. Kepemimpinan Sunan Prawata hanya bertahan setahun, karena Arya Penangsang anak dari Pangeran Surowito membunuh Sunan Prawata untuk membalas dendam.

5. Arya Penangsang (1547M – 1554M)

Setelah Sunan Prawata wafat, tahta kerajaan diberikan kepada Arya Penangsang dan memimpin selama 7 tahun. Pada saat menjabat, Arya Penangsang diliputi rasa ketidakpercayaan dari pemimpin daerah Kesultanan Demak lainnya. Akhirnya, Adipati Pajang, Joko Tingkir melakukan pemberontakan dan terbunuhnya Arya Penangsang di tahun 1554Moleh anak angkat Joko Tingkir, bernama Sutawijaya.

Runtuhnya Kerajaan Demak

Sepeninggal Sultan Trenggono, pemberontakan tentang kekuasaan untuk menjadi raja Demak semakin marak. Bahkan, pemberontakan ini terjadi oleh orang dalam keluarga kerjaan sendiri.

Pemberontakan yang terakhir dipimpin oleh Joko Tingkir, yang dibantu oleh anak angkatnya berhasil membunuh Arya Penangsang. Dengan terbunuhnya Arya Penangsang, kekuasaan Kesultanan Demak akhirnya dipindahkan ke Pajang oleh Joko Tingkir. Hal itu menandakan, berakhirnya Kerajaan Demak.

Demikianlah artikel materi makalah kerajaan demak yang dapat disampaikan, semoga bermanfaat.

Kerajaan Kutai

Guru Apid
4 min read

Kerajaan Sriwijaya

Guru Apid
3 min read