Landbouwkundige Faculteit, cikal bakal IPB

Rate this post

Fakultas Landbouwkundige merupakan cikal bakal berdirinya Institut Pertanian Bogor pada tanggal 1 September 1963 yang diresmikan oleh Presiden Soekarno.

Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, sebuah perguruan tinggi darurat bernama Nood-Universiteit didirikan di Jakarta pada tanggal 21 Januari 1946.

Nood-Universiteit ini mengelola lima fakultas, salah satunya adalah Fakultas Landbouwkundige (Fakultas Pertanian).

Baca juga: Europeesche Lagere School (ELS) dan Perkembangannya
Sejarah Fakultas Landbouwkundige

Sejak zaman kolonial, Bogor telah berkembang menjadi tempat yang representatif

untuk pengembangan pengetahuan tentang flora dan fauna.

Oleh karena itu, pemerintah kolonial mendirikan lembaga penelitian flora dan fauna di Bogor, termasuk Lands Plantentuin te Buitenzorg atau Kebun Raya Bogor.

Kebun Raya Bogor diresmikan pada tanggal 18 Mei 1817 oleh Gubernur Jenderal GAG Hindia Timur Belanda, Gerard Philip Baron van der Capellen.

Dapatkan informasi, inspirasi, dan wawasan di email Anda.
email pendaftaran

Selain Kebun Raya Bogor, ada juga Proefstation voor de Landbouw Algemen

atau Balai Penelitian Pertanian.

Ide mendirikan Landbouwhogeschool (perguruan tinggi untuk pertanian) telah didiskusikan sejak tahun 1918.

Namun, rencana mendirikan Landbouwhogeschool di Bogor tidaklah mudah. Beberapa orang menolak rencana tersebut karena mereka sudah terlibat dalam penelitian yang ditugaskan pemerintah.

Selain itu, aturan pendirian perguruan tinggi dan universitas pada saat itu juga sangat rumit.

Menurut SK Ratu Belanda tanggal 6 Juni 1905, sebuah universitas hanya bisa disebut universitas jika sudah memiliki lima fakultas.

Baca juga: Algemeene Middelbare School (AMS), Sekolah Menengah Hindia Belanda

Mengetahui hal tersebut, beberapa tokoh pun berusaha mendirikan universitas di Hindia Belanda.

Tokoh-tokoh yang memperjuangkannya adalah Abdul Rivai, seorang dokter lokal

dengan gelar doktor di Eropa, serta seorang jurnalis dan aktivis pergerakan nasional yang pernah menjadi anggota Dewan Rakyat pada tahun 1918.

Selain Abdul Rivai, ada juga Hoesein Djajadiningrat, orang Indonesia pertama yang bergelar guru besar.

Hoesein dengan gigih berusaha mendirikan universitas-universitas di Hindia Belanda.

Upaya Hoesein kemudian berujung pada sebuah memorandum dari Otoritas Pengajaran Hindia Belanda-Belanda, yang antara lain membahas rencana pendirian Landbouwhogeschool (sekolah menengah pertanian) di Bogor.

Pada tanggal 16 September 1940, Hoesein Djajadiningrat, Pj. Direktur Pengajaran dan Kehormatan, mengirim surat kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk mempersiapkan pendirian fakultas pertanian.

Gubernur Jenderal AWL Tjarda van Starkenborgh Stachouwer membalas surat itu pada 25 September 1940.

Dalam surat tersebut disebutkan pembentukan komisi penyiapan Fakultas Ilmu Pertanian yang beranggotakan lima orang.

Akhirnya, Faculteit van Landbouwwetenschap (Fakultas Sains dan Pertanian) diresmikan dengan SK Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 31 Oktober 1941.

Namun fakultas ini gagal ketika Belanda kalah dalam Perang Dunia II dan Indonesia diduduki Jepang pada tahun 1942.

Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, didirikanlah Perguruan Tinggi Nood-Universiteit di Jakarta pada tanggal 21 Januari 1946.

LIHAT JUGA :

https://nac.co.id/
https://futsalin.id/
https://evitdermaclinic.id/
https://kabarsultengbangkit.id/
https://journal-litbang-rekarta.co.id/
https://jadwalxxi.id/
https://www.greenlifestyle.or.id/
https://www.kopertis2.or.id/
https://rsddrsoebandi.id/
https://www.ktb-mitsubishimotors.co.id/
https://www.topijelajah.com/
https://mesinmilenial.com/